Laman

Jumat, 02 Maret 2012

Betapa Susahnya Melakukan Donor Darah (Bagi Saya)

Kadang saya merasa, tidak semua pertanyaan bisa dijawab langsung oleh internet seperti sihir, internet hanya media untuk menemukan informasi tapi bukan jawaban. Mungkin itu opini saya, seperti pertanyaan saya baru-baru ini:

"Bagaimana cara saya meregenerasi sel darah tanpa saya harus melakukan donor darah?

Mungkin pertanyaan saya agak membingungkan, ya? Sampai Mr. Google pun kesulitan menemukan jawaban yang pasti. saya bahkan memasukkan pertanyaan saya ke Yahoo!Answer tapi tetap tidak mendapat jawaban. Sehingga kesimpulannya, saya harus mencari sendiri jawaban bagi pertanyaan saya.

Sebenarnya apa yang mendasari pertanyaan saya ini?
Saya sangat terobsesi sekali untuk melakukan donor darah, selain untuk membantu orang lain (walaupun saya merasa, golongan darah saya yang O ini pasti sudah umum dan sudah banyak yang punya, jadi tidak terlalu diperlukan- tapi namanya niat amal, kan boleh ya?) saya mendengar bahwa melalui donor darah, tubuh kita bisa menjadi sehat karena terjadi regerasi sel darah, bagaimana tubuh kita memproduksi sel darah yang baru setelah yang lama kita keluarkan melalui aktivitas donor darah.

Pendapat saya ini terinspirasi dari guru matematika saya saat saya masih di bangku SMA, bagaimana sang guru selalu bercerita bagaimana kegiatan donor darah itu baik bagi si penerima darah dan juga baik bagi tubuh kita sendiri. 

Sejak saat itulah saya selalu penasaran untuk bisa melakukan aksi donor darah ini. Setiap saya melihat ada spanduk-spanduk donor darah, timbul hasrat saya untuk bisa melakukannya.

Tapi, apa daya...

Berat badan saya tidak mencukupi. Saya yang sudah menginjak hampir seperempat abad hanya bisa bersyukur dengan berat badan saya yang tidak lebih dari 40 kg. Sedangkan persyaratan donor darah mengharuskan pendonor memiliki berat badan minimal 45 kg.

5 kg yang sungguh berarti.
Saya pernah memiliki berat badan 45 kg, tapi itu dulu, saat saya masih remaja, dan entah kenapa, semakin waktu bergulir, berat badan saya semakin berkurang dan berkurang. Saya semakin kurus.. Dan entah kenapa menaikkan berat badan bagi saya susah sekali. Saya memang tidak minum multivitamin ataupun suplemen penambah berat badan, karena takut tidak alami dan lebih menginginkan semuanya berjalan sebagaimana mestinya.

Tapi, ya begitulah jadinya, berat badan saya tidak kunjung berubah.

Jadi penyelesaiannya?
Saya sebenarnya mencari cara bagaimana untuk bisa mengeluarkan sel darah merah tanpa harus melakukan donor darah (seandainya ada batasan jumlah darah yang didonorkan bagi orang berberat badan 40 kg, saya akan sangat bahagia) selama saya berat badan saya belum mencapai 45 kg.
Tapi setelah saya kembali pelajari bahan-bahan biologi tentang sistem organ tubuh, bukankah fungsi limpa adalah menghancurkan sel darah yang lama?

Saya jadi tersadar. Oh, ternyata begitu. Memang proses pembentukan jumlah sel darah barunya tidak akan seekstrim saat kita melakukan donor (karena jumlah sel darah yang keluar sangat banyak). Tapi setidaknya saya baru tahu, bahwa sel darah di tubuh saya tetap beregenerasi (saya juga baru teringat bahwa umur sel darah relatif pendek, sehingga sel darah tersebut selalu beregenerasi).

Tambahannya?
Walaupun saya sudah mendapat pengertian seperti itu, tapi saya tetap berharap suatu saat saya bisa melakukan donor darah.

Sedikit pengalaman pribadi, saat saya mengunjungi stand donor darah di suatu rumah sakit di Bandung, baru sampai tahap memeriksa berat badan, si dokter sudah tersenyum, 'Maaf, ya, kamu tidak bisa donor darah, tapi tidak apa-apa, Tuhan melihat niat kamu, kok'

Saya hanya tersenyum kecut dan melangkah keluar ruangan.

Rabu, 29 Februari 2012

Jadi, Beginilah Rasanya "Rindu"

Kemarin, hampir setiap waktu, lagi-lagi, saya bertengkar dengan AT. Saya tidak habis pikir, padahal jika ditilik kembali semuanya diawali oleh hal-hal sepele, hanya saja tidak ada yang ingin mengalah, malahan semakin kami besar-besarkan membuat masalah kami bertambah parah dan selalu saja kata-kata berpisah hampir terlontar. 

Saya akui, memang kemarin AT sedang tidak bersemangat karena persoalannya dengan atasan saya, sedangkan saya yang seharusnya menyemangati dia dan berperan menjadi seseorang yang harusnya menghibur dia di kala lelah sama sekali tidak membantu dia, malahan membuat suasana hatinya bertambah panas karena acuh tak acuh dengannya. Jika diingat-ingat, saya semakin merasa bersalah. 

Harusnya saya bisa menjaga emosi saya agar tetap tenang, tetapi ternyata pengendalian diri adalah hal yang masih sangat berat untuk saya lakukan. Egoisme saya begitu tinggi sehingga rasanya saya ingin 'Saya selalu benar' (jadi ingat lagu milik Geisha, ya?) dan memojokkan pasangan saya yang sebenarnya hatinya sedang dalam kondisi kritis.

Kami memang tidak bertengkar hebat secara fisik, tapi kami selalu melontarkan kata-kata pedas yang menyakitkan baik kepada diri sendiri dan yang lainnya. Saya benar-benar ingin menghilangkan kebiasaan buruk saya ini.

Memang, pertengkaran ini lebih sering terjadi jika saya dan AT sedang terpisah oleh jarak. Mengingat AT yang saat ini sedang berada di Kalimantan untuk kerja membuat kami tidak bisa berkomunikasi langsung secara bertatap muka. Kami hanya bisa berkomunikasi via telepon, BBM, ataupun SMS. 

Mungkin hal itu yang membuat saya penat karena tidak bisa bertemu dirinya.

Dan saat suasana hati kami sudah  mendingin, barulah saya berani mengungkapkan isi hati, apa yang sebenarnya membuat saya gampang emosi dan membuat kami menjadi lebih sering bertengkar:

"Saya merindukanmu..." sambil berbisik di telepon.

Saya bisa merasakan AT sedikit tersenyum saat mendengarnya, saya tidak perlu mendengar jawaban karena kami berdua sudah mengerti akan hal ini. Inilah pekerjaan AT dan saya harus mencoba untuk mengerti.

"Aku menunggumu pulang..."


Selasa, 28 Februari 2012

Mencoba Mencari Sisi Baik Atasan

Source : gettyimages
Dari beribu pendapat dari rekan sekerja tentang atasan saya, hampir dipastikan 90% semuanya berisi sisi buruk atasan saya. Semuanya berisi ketidakpuasan mereka tentang atasan saya. Saya, yang disini berperan sebagai tangan kanan atasan saya hanya bisa terdiam sambil tersenyum mendengarnya. Sebenarnya agak serba salah, di sini saya harus berperan sebagai penengah dan tetap berpihak pada atasan saya, tapi di sisi lain saya juga merasakan kepenatan dan tekanan yang dialami pekerja lain yang ditimbulkan oleh atasan saya.

Dilema. Inilah yang menjadi beban utama saya dalam pekerjaan dan profesi saya. Bagaimana sebisa mungkin saya mencoba untuk bersikap profesional sambil mengesampingkan perasaan pribadi. 

Tapi lama-lama saya menjadi lelah sendiri atas kepura-puraan dan kemunafikan ini, saya seperti menusuk atasan saya dari belakang jika saya berkata semua baik-baik saja padahal di belakang, saya ikutan menjelek-jelekkan atasan saya. Dan saya sungguh sadari, ini tidak benar.

Saya ingin berubah. Saya seringkali berdiskusi dengan keluarga saya mengenai hal ini, dan saya sungguh bersyukur bagaimana mereka selalu mengajarkan pada saya untuk tetap berpikiran positif akan segala hal. Jika saya mengadu pada ibu saya bagaimana atasan saya membentak saya, maka beliau akan menjawab;

"Maklumkan saja, bosmu kan punya diabetes dan darah tinggi, jadi memang perasaan tidak enak kalau belum marah-marah,"

Tapi mengapa harus saya yang jadi tumbalnya??

"Sudah, yang sabar saja,"

Kadang saya juga mengadu pada saudara saya bagaimana atasan saya kalah tender dan tidak dapat proyek, seringkali saya menertawakan sambil meledek, 'Tuh, makanya jangan sombong,' Tapi, bukannya membela saya, saudara saya malah mengingatkan saya:

"Jangan begitu, kamu harus tetap mendoakan atasan kamu agar semakin diberkati, karena itulah hal yang benar,"
Saya jadi tersadar. Bekerja dengan atasan yang seperti ini sebenarnya adalah tantangan bagi saya untuk dapat bersikap rendah hati, lapang dada menerima segala hal dengan tulus.

"Biar semua Tuhan yang balas, jangan sampai kamu memendam emosi, amarah, dan penat, mengampuni saja dengan tulus,"

Mendengar itu, saya segera mencobanya, dan memang hal itu susah. Memaafkan semua tekanan batin yang saya alami dari atasan saya itu susahnya minta ampun, tapi saya bersyukur, Tuhan tolong saya. Lebih baik saya mengampuni lebih dulu, biar saya tidak menanam akar pahit di hati dan saya bisa meneruskan hidup dengan damai.

Sayapun sekarang mencoba untuk menilai atasan saya secara positif, bagaimana perilaku dan tingkahnya, biarlah semua menjadi pembelajaran buat saya. Cara dia berbisnis, sisi buruk dan baiknya, saya pelajari untuk bekal saya di masa depan. 

Mendedikasikan Hidup Untuk Pasangan ?

source: Gettyimages
Mungkin judulnya terlalu berat, tapi sebenarnya tidak seperti itu. Jadi ceritanya, kemarin saya dan AT (lagi-lagi) bertengkar dikarenakan masalah sepele: 'Status di Twitter'. Kemarin, tanpa maksud apa-apa, saya membuat status yang menunjukkan betapa saya ngefans (baca: cinta) pada salah satu artis Korea yang sedang naik daun saat ini.

AT yang membaca itu seketika langsung emosi, marah, dikiranya saya lebih cinta pada artis Korea itu. Padahal saya sudah mati-matian bilang bahwa saya hanya sekedar mengagumi. Apa salahnya mengagumi? Dia bilang, bagaimana mungkin saya bisa serius berhubungan dengan dia jika di pikiran saya masih ada pria lain. 

Saya bingung, saya tidak habis pikir, dan segera menghapus status twitter saya itu. Saya jadi berpikir ingin menutup akun twitter dan facebook saya kalau begini caranya. Saya memang tidak terlalu eksis sekarang di berbagai jaringan sosial sejak mengenal AT, tidak seperti dulu, jadi dengan tidak menggunakan kedua media tersebut bukan hal yang menjadi masalah bagi saya sekarang.

Lalu, mengenai artis Korea, saya mungkin juga harus berhenti terlalu mengidolakan mereka. Tapi saya kembali berpikir, apakah benar apa yang saya lakukan? Apakah saya mengorbankan terlalu banyak hal (termasuk kesenangan pribadi saya?) karena AT?

Sabtu, 25 Februari 2012

Membiasakan Diri Minum Air Putih 8 Gelas (2 Liter) Sehari

Saya sedang mencoba mendisiplinkan diri untuk minum air putih. Saya memang banyak sekali membaca artikel-artikel tentang 'Mengapa Kita Harus Minum Air Putih' , 'Manfaat Air Putih' ,atau juga 'Berapa Banyak Air Putih yang Diminum Dalam Sehari'. Saya baca lho, tapi entah begitu sampai pada pengaplikasiannya, selalu saja susah. Hal itu selalu sebagian dikarenakan faktor-faktor seperti :

✿ Malas
Malas bisa berupa: malas mengambil air, malas beranjak dari tempat duduk (saat saya bekerja), malas untuk ke toilet (karena banyak minum, maka semakin sering saya buang air kecil), dan malas-malas yang lain.

✿ Tidak ada alat takar yang baik
Sebenarnya sepele, cukup delapan gelas kan? Tapi saya kadang lupa, 'Sudah berapa gelas ya? Gelas yang ke berapa nih?'

Tapi setelah dipikir-pikir, saya memang harus menguatkan niat saya agar saya bisa memenuhi kebutuhan tubuh saya akan air. Mengapa? Karena setelah saya sadari, banyak sekali kerugian karena saya kurang minum air putih :

 Wajah jadi terlihat kusam
➨ Tubuh gampang lelah
 Bibir jadi kering
 Susah buang air besar (kadang sakit sekali, dan bisa sampai berhari-hari)
 dan masih banyak lagi 

Jadi, Tidak Bisa Tidak! Saya harus mengubah pola hidup saya yang malas-malasan ini. Akhirnya untuk langkah awal. Saya berusaha mencari solusi untuk kedua 'faktor' utama di atas yang membuat saya tidak disiplin dalam minum air putih : 

 Mengatasi rasa malas : Saya kembali lagi mengingat kerugian dan manfaat minum air putih. Sehingga dengan sendirinya membangkitkan semangat saya lagi untuk disiplin minum air putih.

 Mencari alat takar : Saat ini saya menggunakan botol Aqua 600 mL yang saya bawa kemana-mana, dengan cukup menghitung "Kalau saya sudah minum sebanyak 4 botol, saya sudah memenuhi kebutuhan dasar saya," Saya tidak selalu beli botolnya sih, kadang cukup isi ulang dari air dispenser di rumah atau di kantor.

Maka, dengan ini,
Saya memulai perjalanan saya untuk disiplin minum air putih.


Cheers!

Jumat, 24 Februari 2012

Mengapa Dilarang Detoks (Detox) / Puasa Saat Haid ?

Saya sedang mencari waktu yang tepat untuk segera melakukan detoks / puasa selama tiga hari. Tadinya saya ingin memulainya besok, bersamaan dengan perginya AT ke Balikpapan, jadi saya bisa bermalam minggu dengan kegiatan detox saya, eh, nyatanya hari ini malah bertepatan dengan datangnya tamu bulanan saya. Awalnya saya tetap bersikeras untuk melakukan detoks / puasa di minggu ini juga, tapi ibu saya melarang.

"Kalau lagi menstruasi, dilarang berpuasa," katanya

Saya jadi heran, saya non-muslim, dan saya kira, aturan 'dilarang berpuasa saat haid' itu bukannya hanya berlaku bagi mereka, tapi ternyata ibu saya juga berkata begitu. Mengapa? Dengan diliputi oleh rasa penasaran, akhirnya saya membawa pertanyaan itu ke Google, dan tanpa banyak menanti sayapun mendapat jawabannya dari sini:


Tulisan ini menurut saya cukup ilmiah, karena memang sulit bagi saya untuk langsung menelan alasan dari segi religius.

Jadi, apa inti artikel di atas tentang : Mengapa Kita Tidak Boleh Melakukan Detox/Puasa Saat Menstruasi :

Menstruasi tersebut tidak lain merupakan detox alami yang dilakukan tubuh secara berkala, atau biasa disebut natural detox. Saat hal ini terjadi, dinding rahim hancur, larut dan akhirnya keluar dari tubuh, tiap-tiap fisik wanita memiliki reaksi yang berbeda; ada yang keram, pusing, lelah, dan sebagainya.

Maka jika dalam tahap ini kita melakukan detoks/puasa, kita akan membuat tubuh kita melakukan hal yang 'sedang dilakukan'. Wanita yang melakukan detox/puasa di kala haid akan mengalami kram dan rasa sakit yang lebih besar, lebih lemas ketimbang tidak melakukan detox.

Satu-satunya detox yang sebaiknya dilakukan di kala haid adalah detox secara alami yaitu dengan mengkonsumsi nutrisi alami yang bermanfaat dalam mengurangi nyeri haid itu sendiri, yaitu:
  1. Perbanyak buah segar dan sayuran
  2. Konsumsi makanan tinggi kalsium, seperti susu, yoghurt, sayuran hijau
  3. Teh chamomile  dan peppermint juga baik selain membantu detox alami juga mengurangi rasa nyeri haid
  4. Kurangi garam, gula, dan kafein untuk mengurangi kram.
  5. Kita juga bisa menambahkan konsumsi vitamin B-Complex juga B6 (makanlah sesuai dosis dan tidak lebih dari 100mg B6 per hari).
Jadi harap diingat, kita bisa saja mengalami kerugian lebih jika melakukan detiks/puasa saat haid, sehingga pikirkanlah matang-matang sebelum melakukannya.
Article Source: http://EzineArticles.com/4572947
Setelah membaca ulang artikel di atas, mau tidak mau, saya lagi-lagi harus menunda keinginan saya untuk melakukan detoks..


Cheers!

Selasa, 21 Februari 2012

Tapi, Saya Tidak Mahir Ber-Makeup?

Tadi malam, seperti biasa keluarga besar saya berkumpul di rumah saya. Tante saya kebetulan berulang tahun dan dia ingin dirayakan di rumah saya - yang memang selalu menjadi ajang kumpul-kumpul keluarga. 

Tante datang dengan anaknya, sepupu yang sebaya dengan saya. Cantik, putih, dan memang gemar berdandan. Penampilannya selalu membuat saudara yang lain terbelalak dan kadang gayanya menjadi pembicaraan di tengah-tengah kami para sepupu. Saya akui, memang ada rasa iri, karena saya tidak bisa secantik dia, tidak bisa menggunakan make-up semahir dia, dan tidak bisa mempadupadankan baju seperti dia.

Saya jadi semakin salah tingkah ketika tiba-tiba setelah acara makan malam dia mengeluarkan tas makeup yang besar, penuh dengan kosmetik yang didominasi produk-produk asal Korea. Saya ingin tersenyum tapi yang keluar malah wajah yang terlihat hambar. Semua anggota keluargapun langsung tertarik melihat isi tasnya, dan ingin mencoba bagaimana  memakai semua-semua ini. 

Dan dengan tangkasnya sepupu saya berlagak seperti seorang makeup artist dan acara makan malam ulang tahun itu berubah menjadi beauty salon dadakan.

Saya canggung sekali. Saya tiba-tiba merasa berada di dunia yang berbeda dengan seluruh saudara saya. 

Terutama dengan sepupu saya, saya yang sebaya dengan dia tidak mempunyai kemampuan seperti dia. Saya memang hanya terbiasa menggunakan makeup seadanya, sesuai dengan kebutuhan saya sehari-hari. Jadi seharusnya saya tidak ambil pusing dengan topik makeup itu.

Tapi tanpa saya sadari tuntutan pekerjaan dan aktivitas saya akhir-akhir ini memaksa saya untuk berpenampilan lebih serta menggunakan make up. Haruskah saya? Tapi dipikir-pikir, penghasilan saya hanya cukup untuk kebutuhan perawatan tubuh saya sehari-hari dan baju kelas menengah. Dan pekerjaan yang sekarang kadang tidak memberikan waktu yang lebih untuk saya menjaga penampilan saya. Karena.... Pekerjaan saya.... Menguras habis energi saya.

AT, untungnya, tidak mempermasalahkan hal ini, dia juga tidak terlalu suka dengan wanita yang terlalu gemar berdandan dengan baju yang aneh-aneh. Sayapun juga tetap berusaha tidak terlalu terpengaruh dan benar-benar berusaha mencukupi diri dan kebutuhan saya dengan apa yang saya miliki. Bagusnya, atasan saya juga tidak berani protes dengan penampilan saya yang biasa-biasa saja ini. Sudah terlalu banyak yang dia tuntut dari diri saya, saya sudah sediakan waktu dan tenaga saya, sekarang mau mengatur penampilan saya? Hmm......


Cheers!