Laman

Selasa, 14 Februari 2012

Happy Valentine 2012 : Sebuah Kenangan

Apa kabar Valentine? Tahun 2012 ini genap satu tahun sejak saya dan AT saling menyapa dengan ramah di kantor untuk pertama kalinya. Lucunya saat itu saya langsung menagih coklat valentine padanya yang dia iyakan dengan memberi saya sebuah Chunky bar. Dari situlah hubungan kami berlanjut hingga akhirnya kami memutuskan pacaran. 

Lalu bagaimana dengan tahun ini? Bisa jadi tahun ini pembelajaran yang menarik buat saya, bagaimana tidak, di saat pasangan lain beradu kemesraan dalam suasana yang romantis, AT dan saya malah berlomba saling mendiamkan satu sama lain. Yang benar saja ? Di hari Valentine ini? Saya bahkan sempat berpikir dia hanya mengerjai saya karena sedang mempersiapkan kejutan. Tapi ternyata, sampai sore hingga jam kantor akan berakhir, tidak ada tanda-tanda kejutan dari AT yang akhirnya membuat saya bertekad harus mengakhiri acara diam-diaman ini. 

Seperti biasa saya dan AT (jika tidak ada atasan saya) akan pulang ke rumah bersama, di perjalanan pulang saya bertanya, mengapa hari ini begitu dingin sikapnya terhadap saya. Jawaban AT membuat saya terharu tapi juga ingin tertawa, 

"Saya tidak punya uang untuk membelikanmu hadiah Valentine," jelasnya setengah malu 

Ya ampun! Saya ingin sekali memeluknya sekaligus mencubitnya. Jadi ini alasannya saya harus makan hati sepanjang hari sampai tidak konsentrasi bekerja, gara-gara AT tidak bisa memberi saya sesuatu. Saya mengerti kondisi keuangan AT, sehingga sayapun dari awal tidak berharap banyak, keinginan saya hanyalah di hari Valentine ini kami bisa mempunyai momen yang istimewa yang tidak perlu dinilai dengan uang. 

Sayapun akhirnya memutuskan untuk kami berdua pergi ke Pizza Hut di Carrefour, Bandung untuk makan malam. Tapi dasar, saya yang terlalu bersemangat, saya tidak sadar bahwa AT sangat tidak menikmati hidangan pizza yang memang bukan kesukaannya, saya sebenarnya tahu dia tidak suka pizza, tapi dia mengelak dan meyakinkan saya bahwa dia juga sedang ingin makan pizza. Maka saya pikir dia memang setuju dengan pilihannya saya. 

Tapi ternyata setelah makan malam berakhir, saya melihat ada ketidakpuasan di wajah AT, yang akhirnya membuat saya tersadar; saya salah memilih menu makan Valentine kami. Ego saya memang, saya ingin sekali makan pizza, tapi di sisi lain, seharusnya saya lebih tolerir bahwa AT tidak menyukainya dan kami bisa melakukannya di lain waktu. Sampai malam Valentine berakhir, bukannya bertambah baik, situasi antara kita berdua kembali memanas. 

Sedih sekali. 

Tapi biarlah hal ini menjadi koreksi buat saya dalam memahami keinginan AT di saat-saat selanjutnya.

0 komentar:

Poskan Komentar