Saya sedang mencoba menjawab pertanyaan ini:
"Kenapa sih harus balikan sama mantan??"
Jujur saja, saya tidak pernah memutuskan untuk kembali berhubungan dengan orang-orang yang sudah menjadi mantan kekasih saya. Sehingga saya tidak pernah merasakan sensasi ketika harus mencoba berbaikan dan kembali membina hubungan dengan seseorang yang pernah menjadi mantan untuk kembali menjadi kekasih.
Sehingga opini saya tentang topik ini lebih didominasi dari pengalaman saya hasil mendengar kisah cerita dari teman-teman. Dari sana saya mengambil kesimpulan bahwa keputusan untuk kembali dengan mantan pacar itu didasari oleh dua dorongan: kehendak Yang Di Atas dan atas kemauan hati salah satu pasangan/keduanya.
1) Kehendak Yang Di Atas ?
Bagaimana mungkin Tuhan menginginkan kita kembali pada mantan pacar? Dalam suatu persekutuan wanita yang saya ikuti, seorang wanita memberikan kesaksian bagaimana dia sempat bimbang menghadapi hari-hari pernikahannya karena sampai hari lamaran, dia masih belum yakin bahwa pria yang menjadi calonnya adalah yang terbaik baginya. Apalagi mengingat masih banyak kekurangan yang dia masih belum bisa terima dari pasangannya.
Wanita inipun berdoa meminta jawaban pada Tuhan atas hubungannya, dan anehnya Tuhan (melalui orang lain) memberikan perintah pada wanita itu untuk mengakhiri hubungan dengan pria ini. Wanita itu begitu terkejut mendengar jawaban itu, tapi akhirnya dengan tulus menerimanya dan menjalaninya.
Tapi sungguh ajaib, selang beberapa bulan, si pria datang kembali ke wanita ini dengan kepribadian yang baru, bertolak belakang dengan sifatnya yang dulu, dan kembali meminang wanita ini. Dan di akhir kesaksian itu, si wanita mengaku sudah menikah dan hidup bahagia dengan pria yang saat ini sudah berubah menjadi ayah yang baik, berbeda dengan saat mereka pacaran (sebelum putus) dulu.
2) Kemauan sendiri?
Poin yang kedua ini adalah kasus yang umumnya dan sampai saat ini sering terjadi, terutama di kalangan anak muda dan selebritis. Keputusan balikan dengan mantan pacar yang didorong oleh nafsu/keinginan semata, terjadi bagi di kalangan orang-orang yang belum bisa serius dalam menentukan pilihannya dan masih menganggap bahwa suatu hubungan adalah sesuatu yang bisa dipermainkan.
Saya benar-benar ngeri dengan hal itu, sepertinya mudah sekali untuk mengatakan "Yuk, putus!" lalu saat seseorang tersebut tidak memperoleh pengganti yang dirasa lebih baik, maka dengan mudahnya mereka mengajak mantan pasangannya rujuk kembali sambil mengumbar romantisme mereka. Saya kadang geli dan juga risih jika melihat berita-berita putus nyambung di infotainment. Bahkan saudara-saudara saya juga kerap kali begitu. Membuat saya refleksi dan terus belajar menghargai hubungan yang sedang saya jalani saat ini.
Lalu bagaimana dengan prinsip saya?
Prinsip saya, saya selalu mencoba bertanggungjawab dengan pilihan saya. Karena ketika saya memutuskan untuk mengakhiri hubungan, maka saya tidak akan merubah pikiran saya untuk kembali. Bahkan saya juga sudah katakan ini pada AT, kekasih saya, di awal kami pacaran, lebih baik berpikir matang-matang kalau ingin putus, daripada malu di kemudian hari, selama kami masih mampu mengatasi masalah, ya buat apa putus? Lalu gara-gara kangen jadi nyambung lagi.
Tapi, tetap saya kembalikan semuanya pada Yang Di Atas, kita kan hanya menjalani, jodoh ada di tangan Tuhan, saya juga tidak berani melangkahi. Lebih baik menjalani setiap hari dengan penuh ucapan syukur,
Cheers!

wah, tulisannya menarik.pas dengan tema. gutlack dan salam kenal yah mba Anne :D
BalasHapus