Membicarakan cinta, kapan sih ada habisnya? Sampai saat inipun saya masih belajar memahami cinta serta bagaimana semuanya dapat dijelaskan secara logika yang masuk akal dan dapat dipahami secara emosional.
Saya menjadi tersadar tentang sebuah perkataan yang mengatakan "Tuhan sudah menyediakan pasangan yang sepadan untuk kita," yang kata lainnya bisa berarti, Tuhan sebenarnya sudah memberikan pasangan hidup yang ditakdirkan untuk kita, tapi, melanjutkan perkataan tersebut "Tapi kitalah yang menentukan pilihan kita." yang berarti kita sendiri, yang dalam proses pencarian, menentukan pilihan apakah kita akan memilih dia yang ditakdirkan atau dia, pilihan/keinginan kita.
Saya selalu beranggapan bahwa Yang Diataslah sang sutradara hidup saya, yang membuat rel jalur hidup saya. Dia sudah menyiapkan bagaimana nantinya arah hidup saya, saya akan dibentuk seperti apa, saya punya keberuntungan seperti apa, masa depan yang bagaimana, sampai.. Kriteria pasangan hidup bagaimana yang sepadan untuk saya. Saya percaya semuanya sudah diatur oleh yang Diatas.
Hanya, kita diberi kebebasan untuk mengikuti jalur Yang Diatas atau mengikuti keinginan saya sendiri. Mengapa? Karena memang kita dianugerahi akal, pikiran, dan hati nurani - yang sebenarnya harus kita pergunakan untuk melaksanakan perintahNya dan bukan melanggar aturanNya.
Sehingga, ibarat kereta api, ada kalanya si kereta keluar dari jalurnya dan mengakibatkan kecelakaan, begitu juga hidup kita, seringkali saya keluar dari jalur yang sudah ditentukan oleh Yang Diatas dan mengakibatkan masalah bagi hidup saya.
Demikian dengan memilih pasangan. Tapi sekarang pertanyaannya adalah, Darimana saya tahu bahwa saya memilih pasangan yang memang sudah ditakdirkan oleh Tuhan?
Disinilah permasalahannya, banyak artikel tentang kriteria bagaimana pasangan ideal ataupun seperti apa, jodoh kita yang bercerita banyak, tapi pada kenyataannya manusia memiliki jalur hidup yang berbeda, menentukan pasangan sejati tidak semudah yang terlihat dalam dongeng dan drama-drama romantis Korea.
Ketika diliputi oleh nafsu dan cinta, kita akan susah membedakan mana yang baik dan benar, manakah pasangan yang membawa kita kepada hidup yang lebih baik dan pasangan yang malah menjerumuskan kita ke dalam dosa. Semua terlihat benar.
Bisa saja karena cinta, kita membenarkan pasangan yang membuat kita jauh dari kebiasaan kita yang baik, saya selalu ingat, "Pergaulan buruk merusakkan kebiasaan yang baik". Tapi sebaliknya, ada beberapa orang yang menganggap pasangan yang terlalu alim malah buruk di matanya. Eh?
Jadi bagaimana?
Saya serahkan semua pada Yang Diatas, saya sebagai manusia tidak bisa berjalan sendiri tanpaNya, begitupun urusan cinta, saya bisa makin tua kalau terlalu banyak memilih tanpa menentukan pilihan, sebaliknya saya bisa menjadi lelah kalau terus-terus mencari jawaban atas siapa yang ditakdirkan untuk saya?
Saya percaya pasangan yang ditakdirkan bagi saya bukanlah seorang yang sempurna, tapi dia yang sepadan untuk mendampingi saya.
saya selalu bertanya pada diri saya, dan pembaca mungkin juga bisa lakukan hal yang sama:
Saya menjadi tersadar tentang sebuah perkataan yang mengatakan "Tuhan sudah menyediakan pasangan yang sepadan untuk kita," yang kata lainnya bisa berarti, Tuhan sebenarnya sudah memberikan pasangan hidup yang ditakdirkan untuk kita, tapi, melanjutkan perkataan tersebut "Tapi kitalah yang menentukan pilihan kita." yang berarti kita sendiri, yang dalam proses pencarian, menentukan pilihan apakah kita akan memilih dia yang ditakdirkan atau dia, pilihan/keinginan kita.
Saya selalu beranggapan bahwa Yang Diataslah sang sutradara hidup saya, yang membuat rel jalur hidup saya. Dia sudah menyiapkan bagaimana nantinya arah hidup saya, saya akan dibentuk seperti apa, saya punya keberuntungan seperti apa, masa depan yang bagaimana, sampai.. Kriteria pasangan hidup bagaimana yang sepadan untuk saya. Saya percaya semuanya sudah diatur oleh yang Diatas.
Hanya, kita diberi kebebasan untuk mengikuti jalur Yang Diatas atau mengikuti keinginan saya sendiri. Mengapa? Karena memang kita dianugerahi akal, pikiran, dan hati nurani - yang sebenarnya harus kita pergunakan untuk melaksanakan perintahNya dan bukan melanggar aturanNya.
Sehingga, ibarat kereta api, ada kalanya si kereta keluar dari jalurnya dan mengakibatkan kecelakaan, begitu juga hidup kita, seringkali saya keluar dari jalur yang sudah ditentukan oleh Yang Diatas dan mengakibatkan masalah bagi hidup saya.
Demikian dengan memilih pasangan. Tapi sekarang pertanyaannya adalah, Darimana saya tahu bahwa saya memilih pasangan yang memang sudah ditakdirkan oleh Tuhan?
Disinilah permasalahannya, banyak artikel tentang kriteria bagaimana pasangan ideal ataupun seperti apa, jodoh kita yang bercerita banyak, tapi pada kenyataannya manusia memiliki jalur hidup yang berbeda, menentukan pasangan sejati tidak semudah yang terlihat dalam dongeng dan drama-drama romantis Korea.
Ketika diliputi oleh nafsu dan cinta, kita akan susah membedakan mana yang baik dan benar, manakah pasangan yang membawa kita kepada hidup yang lebih baik dan pasangan yang malah menjerumuskan kita ke dalam dosa. Semua terlihat benar.
Bisa saja karena cinta, kita membenarkan pasangan yang membuat kita jauh dari kebiasaan kita yang baik, saya selalu ingat, "Pergaulan buruk merusakkan kebiasaan yang baik". Tapi sebaliknya, ada beberapa orang yang menganggap pasangan yang terlalu alim malah buruk di matanya. Eh?
Jadi bagaimana?
Saya serahkan semua pada Yang Diatas, saya sebagai manusia tidak bisa berjalan sendiri tanpaNya, begitupun urusan cinta, saya bisa makin tua kalau terlalu banyak memilih tanpa menentukan pilihan, sebaliknya saya bisa menjadi lelah kalau terus-terus mencari jawaban atas siapa yang ditakdirkan untuk saya?
Saya percaya pasangan yang ditakdirkan bagi saya bukanlah seorang yang sempurna, tapi dia yang sepadan untuk mendampingi saya.
saya selalu bertanya pada diri saya, dan pembaca mungkin juga bisa lakukan hal yang sama:
Apakah pasangan saya membawa saya kepada kebiasaan yang lebih baik? Apakah dia membawa saya ke dalam pergaulan yang lebih baik?
Jika YA. Maka terus bertahan dan jalani.
Karena mungkin pilihan Anda (dan saya) adalah orang yang sudah ditakdirkan, tapi tetaplah besar hati jika suatu saat ada perpisahan, karena Dia tak pernah meninggalkan kita semua dan akan selalu memberikan yang terbaik. Kehilangan bukanlah akhir, tapi pintu gerbang untuk awal yang lebih baik.
0 komentar:
Poskan Komentar