Laman

Jumat, 17 Februari 2012

Bagaimana Bersikap di Antara Rekan Pasangan

Jika teringat kemarin bagaimana hampir setengah hari saya dan AT saling mendiamkan, membuang muka satu sama lain, mengirimkan kata-kata BBM pedas satu sama lain, maka hari ini kami tertawa mengingat kejadian itu. Bagaimana tidak, AT marah besar hanya karena saya tidak memandang ke arahnya saat dia merespon pertanyaan saya dan malahan melihat rekan kerja pria lain.

Awal mulanya, kemarin pagi, saya, AT (kekasih saya, yang juga rekan kerja sekantor saya) dan salah satu rekan kerja lain-pria, berkumpul di dekat ruangan kerja saya. Kebetulan saat itu kami baru saja tiba di kantor dan akan mulai briefing tugas kami pada hari itu (sekaligus dibumbui membicarakan keanehan atasan kami). Posisinya, kami.. Saya ada di belakang meja kerja saya, AT berdiri (setengah duduk) di depan meja kerja saya, sedangkan rekan kerja yang lain (sebut saja RY), agak jauh duduk di sofa sebelah kanan dari depan meja kerja saya. (Mungkin agak membingungkan.. Lebih jelas kalau lihat ilustrasi di bawah)..


Tiba-tiba saya melontarkan pertanyaan (yang saya lupa, pertanyaan apa kala itu..)  sambil saya mengarahkan mata saya ke RY - mungkin sebagai pembelaan diri saya, bahwa posisi mata saya saat itu lebih mudah melihat ke RY karena saya sedang duduk mengarah ke sebelah kanan. Tapi ternyata AT segera merespon pertanyaan saya dimana saya tidak tanggap dan masih saja belihat ke arah RY. Tanpa saya sadari, AT sungguh tersinggung dengan respon dan kelakuan saya, seketika dia mengambil Blackberry dari sakunya dan mengirimkan saya BBM:

Kenapa? Padahal aku yang jawab pertanyaanmu, tapi kamu malah memandang ke RY

Segera saya tersadar akan perbuatan saya, yang jujur sangat tidak saya sengaja dan membetulkan posisi duduk saya. Tapi terlanjur sudah, AT segera pergi meninggalkan meja saya menuju ruangannya. 

Saya sadar sekali kesalahan saya, tapi karena sifat jelek saya yang tidak mau kalah, saya malah membalasnya dengan BBM yang lebih pedas, kata-kata yang sungguh menyakitkan (saya yakin...), yang membuat keadaan semakin memanas. Dengan menganggapnya terlalu membesarkan masalah kecil yang tidak seharusnya dipermasalahkan. 

Jika keadaan dibalik, maka tentunya saya akan merasa terluka jika saya berharap dia memandang saya saat sedang berbicara dengannya tetapi dia melihat ke arah wanita lain.

Kami saling diam, ngambek, satu sama lain, bahkan saya melewati jam makan siang saya dengan tetap tinggal di ruangan kerja saya, walaupun AT sudah memaksa saya (masih dengan wajah kesalnya) untuk makan, bahkan dia sengaja sudah membawakan makan siang untuk saya di tengah-tengah suasana kami yang memanas (sungguh, perhatiannya membuat saya terharu..).

Tapi tetap saja, harga diri saya membuat saya menolak makan siang darinya,

Mengapa egomu bisa mengalahkan rasa laparmu ? kata AT
Segera saya tersadar, waktu sudah menjelang sore, ternyata kami sudah mempertahankan perasaan kesal ini hampir setengah hari, dan saya tidak mau hal itu berlarut-larut.

Saya minta maaf padanya, saya berjanji akan menjaga sikap saya agar tidak menyakitinya. Kami berjabat tangan dan mengucap kata 'mari berdamai' sambil tersenyum satu sama lain.

Mungkin hal ini konyol, tapi saya jadi belajar bagaimana menghargai keberadaan orang lain. Kadang kita bersikap bahwa sesuatu hal itu sepele untuk dipermasalahkan, tapi saat kondisi tersebut dibalik, maka kita akan tersadar bahwa kitapun ingin dihargai, terutama oleh kekasih kita sendiri.


Cheers.

0 komentar:

Poskan Komentar