Laman

Sabtu, 18 Februari 2012

Belajar Marah Tanpa Emosi

Saya menangis semalam, sungguh menangis sampai AT kewalahan bagaimana menghibur saya mati-matian agar saya berhenti menangis (yang akhirnya malah membuat saya lebih menangis gara-gara saya terharu dengan usahanya..). Bagaimana tidak? Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, saya sedang berteduh dengan AT menunggu hujan reda untuk pulang ke rumah, tiba-tiba atasan saya menghubungi saya via telpon dengan nada tinggi, memarahi saya untuk sesuatu hal yang, sejujurnya, bukan salah saya.

Kejadian ini diawali dengan SMS sopir atasan saya yang duluan menghubungi saya, dia ingin meminjam/kasbon gajinya dulu dan meminta saya agar menyampaikan pesan tersebut pada atasan saya. Saya bilang, saya belum sempat menyampaikannya karena saya belum bertemu atasan saya selama seminggu ini, berhubung atasan saya sedang ada dinas luar selama seminggu. Maka saya beri alternatif, sebagai sopirnya yang selalu bertemu atasan lebih sering daripada saya, lebih baik si sopir menyampaikan sendiri saja, biar nanti saya menyiapkan tanda terima peminnjaman uangnya besok pagi, lalu si sopir mengiyakan.

Saya kira setelah telepon ditutup, saya bisa melanjutkan obrolan saya dengan AT sambil menunggu hujan reda. Tapi tidak beberapa lama, si sopir menelpon saya lagi, sambil bilang, 

"Bos bilang, kamu sudah pegang uang katanya?"
Saya jadi bingung. Pegang uang apa? Saya tidak ada pegang uang, bahkan uang kas kantor sudah habis-saya belum sempat minta lagi- pembelian kebutuhan kantor malah harus menggunakan uang saya.

"Tidak ada. Uang apa,ya?" Saya menjawab dengan hati-hati. Bagaimanapun juga saya tidak ingin ada kekeliruan dalam saya mengelola uang kantor.

Lalu si sopir yang, juga tidak tahu, segera mengiyakan dan kembali menutup telepon.

Tidak lama berselang, Blackberry saya kembali bergetar, kali ini nama atasan saya tertera. Saya segera mengangkatnya. Nada pertama, terdengar seperti rasa marah yang ditahan saat atasan memanggil nama saya. 

"Ada apa, pak?"
"Bukannya saya waktu itu sudah memberi kamu uang untuk dipinjamkan ke sopir?"
"Sopir? Yang mana ya, pak? Saya tidak ada minta," Sambil saya mencoba mengingat-ingat.
"Itu yang minggu lalu!" Nada atasan saya mulai meninggi kali ini.
"Minggu lalu? Itu bukan untuk sopir, pak. Itu kan untuk Bpk. S," Bapak S adalah salah satu rekan kerja atasan saya.
"Apa?! Bapak S? Mengapa kamu pinjamkan uang ke Bapak S??!!" Nadanya kali ini membentak saya sambil lebih berapi-api. Saya agak bergetar, tapi saya yakin saya tidak salah.
"Saya kan bilang minggu lalu, bahwa Bapak S ingin pinjam uang..-"
"MANA ADA BAPAK S?? SAYA KIRA ITU PINJAMAN UNTUK SOPIR?"

Kalau saja Tuhan tidak tolong saya menahan emosi saya kala itu, mungkin saya sudah balas membentak bos saya dengan lebih gila lagi, tapi saya berusaha untuk sabar, selain menyadari bahwa dia atasan saya, dan saya harus menghormati dia.

"Tidak pak, itu untuk Bapak S, saya sudah bilang ke bapak, bahkan Pak S juga datang sendiri ke Bapak untuk mengambil uangnya," jelas saya.
"SUMPAH DEMI TUHAN, SAYA TIDAK MELIHAT BAPAK S! ITU UANG UNTUK PINJAMAN SUPIR YANG SAYA TAU!"
"Tapi saya bilang, pak, itu untuk Pak S -"
"SAYA TIDAK LIHAT ADA BAPAK S!!"
"Pak, saya lihat sendiri Bapak S datang dan masuk, ngobrol, dengan bapak," Saya masih tidak percaya, mengapa atasan saya bertingkah seperti itu.
.........

Pembicaraan masih terus berlanjut dengan atasan saya yang tetap ngotot dengan pendapatnya bahwa dia tidak merasa meminjamkan uang pada Bapak S, dan saya juga bersikeras bahwa saya memberikan pinjaman sesuai dengan persetujuannya.

Yang akhirnya telepon diputus sepihak oleh atasan saya.

Saya segera terdiam, terhenyak, membisu. Saya menatap AT yang terlihat bingung memperhatikan saya. Seketika itu juga meleleh air mata saya, dalam hati saya menjerit, apa salahku, Tuhan? Mengapa tiba-tiba saja ada kejadian ini? AT segera memeluk saya, membenamkan kepala saya di dadanya sambil berkata lirih, "Ada apa, sayang?" Saya benar-benar tidak tahu lagi, saya juga bingung, mengapa saya menangis, mengapa saya menangis? Ini bukan salah saya...

Setelah beberapa saat saya bisa menenangkan diri, saya menceritakan hal tersebut pada AT. AT terlihat berang, karena dia juga menyaksikan kedatangan Bapak S untuk meminjam uang pada atasan saya dan bagaimana atasan saya mengiyakan.

Yang saya suka dari AT, semakin lama dia cukup bijaksana dan dewasa untuk saya tidak menyalahkan yang sudah terjadi dan memberi semangat saya untuk tetap kuat menghadapi situasi kerja saya.

"Yang kuat, yang sabar, ya.. " Katanya.

Jika dulu AT akan ikut-ikutan membuat saya panas dengan menjelek-jelekkan atasan saya, maka sekarang AT memilih untuk mengambil jalan tengah, dan meminta saya untuk menahan emosi dan tetap bekerja dengan lebih baik lagi.

Saat saya menceritakan hal ini pada ibu saya, ibu sayapun tidak serta merta ikut jengkel dengan atasan saya, malah dia berusaha menenangkan dan ingin saya maklum dengan keadaan ini,

"Atasanmu 'kan ada diabetes, biasalah orang diabetes itu bawaannya marah-marah melulu, biarin aja, jangan dimasukkan dalam hati,"

Saya jadi lebih tenang. Sempat saya berpikir mengapa tidak ada yang membela saya? Ikut-ikutan panas? Tapi setelah saya pelajari, untuk apa panas hati? Malah menambah dosa, lebih baik mengampuni, saya sayang pada diri dan perasaan saya. Saya tidak ingin dendam. Saya ingin lebih sabar dan melupakan semua. 

Saya juga teringat dengan ajaran agama saya, penguasaan diri adalah yang terpenting, termasuk menjaga emosi. Marah boleh, tapi tidak pakai emosi. Bagaimana caranya? Bijaksana dalam mengontrol amarah. Saya berdoa saja semoga atasan saya tetap diberkati Tuhan. Saya berdoa agar saya bisa lebih tenang.

Kejadian ini bukan yang pertama kali, dimana atasan saya sangat suka mencari-cari kesalahan saya sampai sekecil-kecilnya, tapi saya yakin, orang benar dilindungi Tuhan.


Cheers!

0 komentar:

Poskan Komentar