Laman

Selasa, 28 Februari 2012

Mencari Sisi Baik Atasan

Dari beribu pendapat dari rekan sekerja tentang atasan saya, hampir dipastikan 90% semuanya berisi sisi buruk atasan saya. Semuanya berisi ketidakpuasan mereka tentang atasan saya. Saya, yang disini berperan sebagai tangan kanan atasan saya hanya bisa terdiam sambil tersenyum mendengarnya. Sebenarnya agak serba salah, di sini saya harus berperan sebagai penengah dan tetap berpihak pada atasan saya, tapi di sisi lain saya juga merasakan kepenatan dan tekanan yang dialami pekerja lain yang ditimbulkan oleh atasan saya.

Dilema. Inilah yang menjadi beban utama saya dalam pekerjaan dan profesi saya. Bagaimana sebisa mungkin saya mencoba untuk bersikap profesional sambil mengesampingkan perasaan pribadi. 

Tapi lama-lama saya menjadi lelah sendiri atas kepura-puraan dan kemunafikan ini, saya seperti menusuk atasan saya dari belakang jika saya berkata semua baik-baik saja padahal di belakang, saya ikutan menjelek-jelekkan atasan saya. Dan saya sungguh sadari, ini tidak benar.

Saya ingin berubah. Saya seringkali berdiskusi dengan keluarga saya mengenai hal ini, dan saya sungguh bersyukur bagaimana mereka selalu mengajarkan pada saya untuk tetap berpikiran positif akan segala hal. Jika saya mengadu pada ibu saya bagaimana atasan saya membentak saya, maka beliau akan menjawab;

"Maklumkan saja, bosmu kan punya diabetes dan darah tinggi, jadi memang perasaan tidak enak kalau belum marah-marah,"

Tapi mengapa harus saya yang jadi tumbalnya??

"Sudah, yang sabar saja,"

Kadang saya juga mengadu pada saudara saya bagaimana atasan saya kalah tender dan tidak dapat proyek, seringkali saya menertawakan sambil meledek, 'Tuh, makanya jangan sombong,' Tapi, bukannya membela saya, saudara saya malah mengingatkan saya:

"Jangan begitu, kamu harus tetap mendoakan atasan kamu agar semakin diberkati, karena itulah hal yang benar,"
Saya jadi tersadar. Bekerja dengan atasan yang seperti ini sebenarnya adalah tantangan bagi saya untuk dapat bersikap rendah hati, lapang dada menerima segala hal dengan tulus.

"Biar semua Tuhan yang balas, jangan sampai kamu memendam emosi, amarah, dan penat, mengampuni saja dengan tulus,"

Mendengar itu, saya segera mencobanya, dan memang hal itu susah. Memaafkan semua tekanan batin yang saya alami dari atasan saya itu susahnya minta ampun, tapi saya bersyukur, Tuhan tolong saya. Lebih baik saya mengampuni lebih dulu, biar saya tidak menanam akar pahit di hati dan saya bisa meneruskan hidup dengan damai.

Sayapun sekarang mencoba untuk menilai atasan saya secara positif, bagaimana perilaku dan tingkahnya, biarlah semua menjadi pembelajaran buat saya. Cara dia berbisnis, sisi buruk dan baiknya, saya pelajari untuk bekal saya di masa depan. 

0 komentar:

Poskan Komentar