Laman

Senin, 20 Februari 2012

Belajar Bersabar dan Menguasai Diri

Mengingat kejadian malam Sabtu kemarin, betapa sakit hatinya saya dimaki-maki oleh atasan saya yang disebabkan oleh kesalahan yang jelas-jelas bukan salah saya, menyisakan sedikit luka yang masih sulit bagi saya untuk melupakannya bahkan untuk mengampuninya, saya masih perlu waktu, tapi saya tetap berdoa agar saya tidak menyimpan akar pahit itu terlalu lama di hati saya.

Tapi, Tuhan memang baik dan saya sangat merasakan kasih sayangNya terhadap saya setiap waktu. Minggu kemarin saat saya sedang beribadah, entah kenapa, pemuka agama saya mengajarkan (berkhotbah) tepat dan sesuai dengan segala masalah saya, bahkan mengambil perumpamaan cerita yang benar-benar sama dengan apa yang saya alami. Hati saya sungguh bergetar bagaimana Firman itu mengena di hati saya.

Seketika itu saya tersadar bahwa saya tidak akan terus berlarut-larut dalam situasi 'marah' terhadap atasan saya, saya berusaha menguasai amarah saya dan biarlah segala amarah saya bisa jadi menjadi energi positif yang bisa membawa kebaikan bagi saya dan orang sekitar saya.

Saya jadi semakin tersadar bagaimana saya harus tetap mengontrol diri saya ketika saya marah. Saya sebenarnya hampir tidak berbeda dengan cara marah atasan saya, meluap-luap dan meledak-ledak, bahkan jika saya bertengkar dengan AT (bahkan ibu saya), seringkali kata-kata menyakitkan keluar dari mulut saya. Tapi Firman kemarin benar-benar menyadarkan saya bagaimana saya harus bersikap agar tidak menyakiti hati orang lain. 

Marah tanpa berbuat dosa. Menyimpan segala marah itu di hati, menjadikan energi marah itu menjadi sesuatu hal yang positif dan segera mengampuni agar kita tidak berlarut-larut dalam panas hati. Sangat benar sekali. Seringkali perbuatan marah, apalagi karena hal yang sepele membuat masalah menjadi bertambah besar dan berujung luka.

Saya jadi teringat atasan saya. Mengambil hikmah saja, mengapa dia bisa marah seperti itu kepada saya, mungkin saja dia sedang diliputi banyak masalah dan 'dasar nasib', saya sebagai karyawan yang terkena imbasnya. Tapi saya bersyukur saja, biarlah hal ini menjadi kekuatan bagi saya.
Pagi ini, masih ada rasa segan dan takut ketika saya akan menghadap atasan saya, apakah saya akan kembali dimarahi? Jujur, sebagai manusia, rasa takut itu ada dan saya sangat khawatir. Tapi saya berdoa, ketakutan yang ada dalam diri saya bukanlah untuk takut pada manusia, tapi takut pada Tuhan. Karena itu sepanjang langkah saya menuju ruangannya saya terus berdoa menyingkirkan rasa takut ini dan mencoba untuk tetap kuat berjalan.

Saat saya bertemu dengannya, menyapa atasan saya. Sungguh saya tidak percaya bagaimana ramahnya atasan saya. Saya ingin tersenyum, tapi biarlah hati saya saja yang tertawa dan bersyukur. Di tengah-tengah pembicaraan atasan saya mengenai pekerjaan yang harus saya tangani, akhirnya saya tahu bahwa beliau baru saja kehilangan kartu ATM nya, tertelan di mesin ATM, mungkin saja hal itu yang membuat emosinya meledak-ledak, mengingat jumlah uang yang ada di rekeningnya.

Sayapun mau tidak mau harus maklum, walaupun tabiat marah atasan saya seperti itu bukanlah hal yang baik untuk ditiru, karena bagaimanapun juga hal itu memperlihatkan keburukan seseorang, apalagi di mata bawahannya?

Hal ini benar-benar saya jadikan pembelajaran bagi saya untuk bersikap.

Cheers!


0 komentar:

Poskan Komentar