Menjawab pertanyaan dari :
Siang itu juga, di tengah-tengah jam makan siang di kantor, saya iseng menanyakan hal itu pada AT:
Sayapun juga segera merefleksi diri saya sendiri. Pernahkah saya bosan pada AT? Hubungan kami memang baru akan menginjak satu tahun, banyak pertengkaran terjadi di antara kami, ngambek pun sudah jadi makanan sehari-hari, mulai dari hal kecil, sampai hal besar, bahkan pihak keluarga sudah sering lihat bagaimana saya bertengkar dengan AT - sampai banting pintu kamar di rumahpun saya pernah (tapi tetap saya bersyukur, sampai saat ini kami masih berkomitmen bersama, tidak pernah selingkuh).
Saya sungguh bangga mengatakan bahwa, saya tidak pernah bosan ataupun jenuh bersamanya. Intensitas pertemuan kamipun bisa dibilang hampir setiap waktu, dikurangi jam tidur.
Mengingat kami satu kantor bersama, kami bertemu setiap hari, makan siang bersama, pulang kantor bersama, dan setelah itu AT akan singgah di rumah saya sampai jam malam waktu saya tidur. Bisa dibilang seluruh aktifitas saya lakukan bersama AT. Dan hal itu membuat saya jadi lebih terbiasa bersamanya, malah lebih aneh jika saya melakukan sesuatu sendiri, karena pasti akan terasa ada yang kurang.
Walaupun rutinitas yang kami lakukan HAMPIR SAMA SETIAP HARI; kami makan bersama, berdoa bersama, (jika di rumah) kami memasak bersama, mengantar saya kemanapun, juga mengurus kebersihan kamar kos AT, saya menikmati kebersamaan tersebut.
Jadi apa yang-menurut saya membuat saya tidak bosan bersama kekasih saya?
1) Seperti yang dibilang AT di atas: saling mencintai, saling mengerti, saling memahami
Saya rasa ini adalah kunci yang paling utama, saling mencintai itu wajib. Saling mengerti sangat diperlukan dalam menjaga keharmonisan dan apa yang dikehendaki pasangan. Kadang saya meminta AT untuk mengerti waktu-waktu di mana saya tidak bisa bersama dia, begitupun saya akan mengerti kapan AT membutuhkan saya untuk meluangkan waktu saya untuk bersamanya (Karena memang aktifitas saya lebih padat ketimbang AT). Saling memahamipun juga berarti mau mengalah satu sama lain (hal ini adalah hal yang sedang saya pelajari untuk membina sikap toleransi antara saya dan AT, dan memang susah)
2) Temukan hal baru dalam diri pasangan
Pasangan saya adalah pribadi yang unik. Saya yakin itu. Begitupun juga pasangan orang lain, tentunya. Saya mengenal AT baru (akan) 1 tahun, tentunya saya belum mengenal dia seperti keluarganya mengenal dia. Karena itulah saya belajar untuk menemukan keunikan dirinya setiap kami bersama. Dan salah satu yang membuat saya terkagum-kagum adalah : AT membuat sambal paling enak! Dan dialah orang pertama yang membuat saya jadi tidak pernah melewatkan sambal setiap kali makan di rumah.
3) Selalu ingat bagaimana dia mencuri hatiku saat awal dulu
Setiap saat saya selalu tidak pernah lupa mengingat hal-hal romantis yang pernah dia lakukan, dia berikan, bahkan hal-hal yang dia 'sangat usahakan' di tengah-tengah 'kekurangannya' untuk mewujudkannya, selalu dia lakukan untuk saya. Apalagi saat bagaimana kami mengawali hubungan itu, hal itu menyegarkan kembali hubungan kami- apalagi setiap kami usai bertengkar.
4) Setiap hari adalah berharga
AT tidak selalu berada di dekat saya, karena dia adalah orang lapangan, kadang dia akan bepergian ke luar kota untuk bekerja selama beberapa waktu (kadang berbulan-bulan), maka saya sungguh menghargai saat-saat bersamanya, karena saat dia tidak ada, saya akan benar-benar rindu akan kehadirannya.
5) Jangan bertengkar lebih dari satu hari
Ini adalah peraturan kami nomer 1 ! Bertengkar boleh, ngambek normal, tapi tidak lewat dari matahari terbenam, yang artinya, cukup satu hari itu saja. Hari esok harus lebih baik. Dan sampai saat ini kami tetap berpegang pada prinsip ini. Berbeda pendapat adalah hal wajar dalam membina sebuah hubungan, untuk menyatukan opini, ataupun untuk mendapatkan sebuah kesehatian, tetapi tidak berlarut-larut.
Saat ini saya juga sedang belajar untuk mengontrol emosi saya.
Lalu, mengapa kebosanan pada pasangan itu ada?
Pertama-tama perlu tahu, kebosanan seperti apa yang dirasakan? Apakah bosan dengan kebersamaan itu? Kebosanan karena rutinitas dengan pasangan ataukah kebosanan dengan pasangan itu sendiri? Jika bosan dengan kegiatan yang dilakukan dengan pasangan, saya kira itu bukanlah sesuatu yang patut dipermasalahkan, cobalah variasi lain melakukan kegiatan lain dengan pasangan.
psst, AT kadang menemani saya ke salon, dan dia suka sekali creambath!
Ingin sesekali melakukan aktifitas sendiri? Mengapa tidak dibicarakan saja? Saya rasa 'bosan' bukan karena kita selalu melakukan segalanya berdua dengan pasangan kan? Pasangan yang baik pasti akan mengerti jika salah satu dari mereka menginginkan 'me-time'.
Nah, yang berbahaya adalah jika bosan dengan pasangan!
Hubungan dengan kekasih saya yang dulu, saya kerap mengalami kebosanan yang hebat sekali, berpacaran 1 minggu, 2 minggu, lalu mengakhiri hubungan adalah sesuatu yang wajar buat saya. Saat saya mengingat mengapa hal itu terjadi, maka saya tersadar akan hal ini :
1) Emosi yang labil
Saat itu saya sedang remaja, emosi labil, saya melihat banyak pria dan tidak bisa memilih mana yang terbaik untuk saya, sehingga saya dengan mudahnya meninggalkan pasangan saya dan mencari pengganti yang lain
2) Tidak ada Komitmen untuk suatu hubungan
Berbeda dengan hubungan saya dengan AT saat ini, walaupun saya tidak tahu bagaimana masa depan kami berdua, tapi saat ini kami menjalani hubungan ini dengan serius, kami berkomitmen untuk dapat sampai ke pelaminan, walaupun pada akhirnya kami serahkan semua kepada Yang Diatas. Jika komitmen itu ada maka masing-masing akan tahu bagaimana menjaga perasaannya dan pasangan agar tetap saling setia.
3) Tidak Peduli Perasaan Pasangan
Adanya rasa dan kata 'bosan' itu seringkali berasal dari ego masing-masing, di mana kita tidak bisa mengontrol emosi kita, yang pada akhirnya kita akan menyesalinya. Bagaimana jika kita sendiri yang mendengar kata 'bosan' itu dari pasangan kita? Dimana kita sungguh mencintai dia dengan sepenuh hati? Tidakkah kita terluka?
4) Memberikan rasa cinta yang 'sama' kepada pasangan
Maksudnya, marilah kita memberikan rasa cinta dengan tingkat yang sama seperti pasangan kita mencintai saya. AT begitu mencintai saya dan sayapun belajar untuk mencintai dia dan memperhatikan dia seperti perhatiannya pada saya. Jika dia mencintai saya lebih, maka saya akan menyeimbangkan rasa cintanya.
Jika rasa cintanya 'kurang' ? Maka saya akan membuat dia kembali mencintai saya. Saya dan AT pernah terlibat dalam pembicaraan begini:
Begitu juga dengan Anda.
Cheers!
'Bagaimana caranya agar dalam menjalin hubungan terhindar dari rasa bosan kepada pasangan?
Siang itu juga, di tengah-tengah jam makan siang di kantor, saya iseng menanyakan hal itu pada AT:
Saya (S) : Apakah kamu pernah bosan padaku?Saya langsung tersenyum mendengar perkataannya, siapa yang tidak suka mendengar pengakuan cinta kekasih di siang hari saat sedang lelah bekerja? Seakan-akan energi untuk beraktifitas kembali terkumpul.
AT : Bosan kenapa?
S : Bosan, bertemu, bosan apa saja dari diriku.
AT : Tidak. Apa kamu bosan padaku?
S : Tidak. Lalu mengapa kamu tidak pernah bosan?
AT : Karena aku mencintaimu, aku mengerti kamu, dan aku memahami kamu.
Sayapun juga segera merefleksi diri saya sendiri. Pernahkah saya bosan pada AT? Hubungan kami memang baru akan menginjak satu tahun, banyak pertengkaran terjadi di antara kami, ngambek pun sudah jadi makanan sehari-hari, mulai dari hal kecil, sampai hal besar, bahkan pihak keluarga sudah sering lihat bagaimana saya bertengkar dengan AT - sampai banting pintu kamar di rumahpun saya pernah (tapi tetap saya bersyukur, sampai saat ini kami masih berkomitmen bersama, tidak pernah selingkuh).
Saya sungguh bangga mengatakan bahwa, saya tidak pernah bosan ataupun jenuh bersamanya. Intensitas pertemuan kamipun bisa dibilang hampir setiap waktu, dikurangi jam tidur.
Mengingat kami satu kantor bersama, kami bertemu setiap hari, makan siang bersama, pulang kantor bersama, dan setelah itu AT akan singgah di rumah saya sampai jam malam waktu saya tidur. Bisa dibilang seluruh aktifitas saya lakukan bersama AT. Dan hal itu membuat saya jadi lebih terbiasa bersamanya, malah lebih aneh jika saya melakukan sesuatu sendiri, karena pasti akan terasa ada yang kurang.
Walaupun rutinitas yang kami lakukan HAMPIR SAMA SETIAP HARI; kami makan bersama, berdoa bersama, (jika di rumah) kami memasak bersama, mengantar saya kemanapun, juga mengurus kebersihan kamar kos AT, saya menikmati kebersamaan tersebut.
Jadi apa yang-menurut saya membuat saya tidak bosan bersama kekasih saya?
1) Seperti yang dibilang AT di atas: saling mencintai, saling mengerti, saling memahami
Saya rasa ini adalah kunci yang paling utama, saling mencintai itu wajib. Saling mengerti sangat diperlukan dalam menjaga keharmonisan dan apa yang dikehendaki pasangan. Kadang saya meminta AT untuk mengerti waktu-waktu di mana saya tidak bisa bersama dia, begitupun saya akan mengerti kapan AT membutuhkan saya untuk meluangkan waktu saya untuk bersamanya (Karena memang aktifitas saya lebih padat ketimbang AT). Saling memahamipun juga berarti mau mengalah satu sama lain (hal ini adalah hal yang sedang saya pelajari untuk membina sikap toleransi antara saya dan AT, dan memang susah)
2) Temukan hal baru dalam diri pasangan
Pasangan saya adalah pribadi yang unik. Saya yakin itu. Begitupun juga pasangan orang lain, tentunya. Saya mengenal AT baru (akan) 1 tahun, tentunya saya belum mengenal dia seperti keluarganya mengenal dia. Karena itulah saya belajar untuk menemukan keunikan dirinya setiap kami bersama. Dan salah satu yang membuat saya terkagum-kagum adalah : AT membuat sambal paling enak! Dan dialah orang pertama yang membuat saya jadi tidak pernah melewatkan sambal setiap kali makan di rumah.
3) Selalu ingat bagaimana dia mencuri hatiku saat awal dulu
Setiap saat saya selalu tidak pernah lupa mengingat hal-hal romantis yang pernah dia lakukan, dia berikan, bahkan hal-hal yang dia 'sangat usahakan' di tengah-tengah 'kekurangannya' untuk mewujudkannya, selalu dia lakukan untuk saya. Apalagi saat bagaimana kami mengawali hubungan itu, hal itu menyegarkan kembali hubungan kami- apalagi setiap kami usai bertengkar.
4) Setiap hari adalah berharga
AT tidak selalu berada di dekat saya, karena dia adalah orang lapangan, kadang dia akan bepergian ke luar kota untuk bekerja selama beberapa waktu (kadang berbulan-bulan), maka saya sungguh menghargai saat-saat bersamanya, karena saat dia tidak ada, saya akan benar-benar rindu akan kehadirannya.
5) Jangan bertengkar lebih dari satu hari
Ini adalah peraturan kami nomer 1 ! Bertengkar boleh, ngambek normal, tapi tidak lewat dari matahari terbenam, yang artinya, cukup satu hari itu saja. Hari esok harus lebih baik. Dan sampai saat ini kami tetap berpegang pada prinsip ini. Berbeda pendapat adalah hal wajar dalam membina sebuah hubungan, untuk menyatukan opini, ataupun untuk mendapatkan sebuah kesehatian, tetapi tidak berlarut-larut.
Saat ini saya juga sedang belajar untuk mengontrol emosi saya.
Lalu, mengapa kebosanan pada pasangan itu ada?
Pertama-tama perlu tahu, kebosanan seperti apa yang dirasakan? Apakah bosan dengan kebersamaan itu? Kebosanan karena rutinitas dengan pasangan ataukah kebosanan dengan pasangan itu sendiri? Jika bosan dengan kegiatan yang dilakukan dengan pasangan, saya kira itu bukanlah sesuatu yang patut dipermasalahkan, cobalah variasi lain melakukan kegiatan lain dengan pasangan.
psst, AT kadang menemani saya ke salon, dan dia suka sekali creambath!
Ingin sesekali melakukan aktifitas sendiri? Mengapa tidak dibicarakan saja? Saya rasa 'bosan' bukan karena kita selalu melakukan segalanya berdua dengan pasangan kan? Pasangan yang baik pasti akan mengerti jika salah satu dari mereka menginginkan 'me-time'.
Nah, yang berbahaya adalah jika bosan dengan pasangan!
Hubungan dengan kekasih saya yang dulu, saya kerap mengalami kebosanan yang hebat sekali, berpacaran 1 minggu, 2 minggu, lalu mengakhiri hubungan adalah sesuatu yang wajar buat saya. Saat saya mengingat mengapa hal itu terjadi, maka saya tersadar akan hal ini :
1) Emosi yang labil
Saat itu saya sedang remaja, emosi labil, saya melihat banyak pria dan tidak bisa memilih mana yang terbaik untuk saya, sehingga saya dengan mudahnya meninggalkan pasangan saya dan mencari pengganti yang lain
2) Tidak ada Komitmen untuk suatu hubungan
Berbeda dengan hubungan saya dengan AT saat ini, walaupun saya tidak tahu bagaimana masa depan kami berdua, tapi saat ini kami menjalani hubungan ini dengan serius, kami berkomitmen untuk dapat sampai ke pelaminan, walaupun pada akhirnya kami serahkan semua kepada Yang Diatas. Jika komitmen itu ada maka masing-masing akan tahu bagaimana menjaga perasaannya dan pasangan agar tetap saling setia.
3) Tidak Peduli Perasaan Pasangan
Adanya rasa dan kata 'bosan' itu seringkali berasal dari ego masing-masing, di mana kita tidak bisa mengontrol emosi kita, yang pada akhirnya kita akan menyesalinya. Bagaimana jika kita sendiri yang mendengar kata 'bosan' itu dari pasangan kita? Dimana kita sungguh mencintai dia dengan sepenuh hati? Tidakkah kita terluka?
4) Memberikan rasa cinta yang 'sama' kepada pasangan
Maksudnya, marilah kita memberikan rasa cinta dengan tingkat yang sama seperti pasangan kita mencintai saya. AT begitu mencintai saya dan sayapun belajar untuk mencintai dia dan memperhatikan dia seperti perhatiannya pada saya. Jika dia mencintai saya lebih, maka saya akan menyeimbangkan rasa cintanya.
Jika rasa cintanya 'kurang' ? Maka saya akan membuat dia kembali mencintai saya. Saya dan AT pernah terlibat dalam pembicaraan begini:
AT : Bagaimana jika tiba-tiba aku tidak lagi mencintaimu
S : Apakah itu 'benar-benar tidak mencintai' dimana sama dengan 0% atau masih ada 1% cinta untukku?
AT : Yah, mungkin masih 1%
S : Jika ada 1%, saya akan membuatmu mencintaiku lagiIya, saya akan membuat dia mencintai saya, karena kami sudah berkomitmen untuk saling setia dan mempertahankan hubungan ini dari awal. Jika memang Tuhan tidak mengkhendaki, maka akan terjadi sesuai kehendakNya, tapi selama Tuhan izinkan, maka saya dan AT akan berusaha yang terbaik dalam menjalani hubungan kami berdua.
Begitu juga dengan Anda.
Cheers!

0 komentar:
Poskan Komentar