Keluarga ibu dan ayah saya bisa dibilang keluarga besar, saudara ibu saya berjumlah sepuluh orang dan saudara ayah saya berjumlah enam orang. Bisa dibayangkan ketika mereka semua berkumpul, apalagi masing-masing membawa keluarga kecilnya, rumah kediamanpun sudah dipastikan tidak muat menampung semuanya, Untungnya masing-masing keluarga besar ayah dan ibu saya berada di kota yang berbeda sehingga kejadian seperti ini hampir tidak pernah terjadi.
Tapi tetap saja, keluarga masing-masing ayah dan ibu saya dapat dikategorikan keluarga besar.
Jadi begini ceritanya, dua tante saya, adik dari ibu saya baru-baru ini berkunjung ke Indonesia, tepatnya ke Bandung, berhubung kedua tante ini memang sudah lama menetap dan menjadi warga negara Belanda, dan Bandung adalah 'markas besar' keluarga ibu saya, jadilah mereka memutuskan untuk ke Bandung dan tinggal di rumah keluarga saya selama tiga bulan.
Tidak diragukan lagi, pihak keluarga yang lainpun segera bersemangat untuk ketemu kedua tante saya, untuk menagih oleh-oleh tentunya, atau sekedar mendengar kisah-kisah dari negeri Belanda. Jadilah, sudah seminggu ini semua kakak-adik ibu saya berkumpul setiap hari di rumah saya hanya untuk bercengkerama dengan tante-tante saya selama mereka berlibur di Indonesia.
Saya sih senang dengan keadaan ini, tapi ternyata tidak bagi AT, kekasih saya... Dia benar-benar mati gaya (Istilah yang diberikan saudara-saudara saya kepada AT) karena dia tidak tahu bagaimana harus bersikap di tengah-tengah keluarga saya.
AT benar-benar pemalu sekali, risih dan sungkan berada terlalu lama di dekat keluarga besar saya (walaupun AT sendiri sudah akrab dengan orang tua dan saudara kandung saya), dia akan lebih memilih menyendiri sambil nonton TV di ruangan lain dalam rumah saya. Saya benar-benar bingung menghadapi hal ini. Di satu sisi, sayapun berkewajiban menemani keluarga besar saya (namanya juga berkumpul keluarga, apalagi kedua tante saya sudah hampir sepuluh tahun tidak pulang ke Indonesia) tapi di sisi lain, saya juga tidak pantas membiarkan AT seorang diri.
Puncaknya, semalam saya bertengkar lagi gara-gara hal ini. Saya begitu memaksakan AT untuk berada di tengah-tengah keluarga saya, sedangkan AT bersikeras tidak ingin ikut-ikut acara keluarga saya dan memilih untuk pulang.
Saya kecewa sekali. Sungguh kecewa. Bahkan hingga pagi tadi, kami masih sempat adu argumen, hampir menantang kata 'putus' dari mulut kami. Tapi sungguh, jangan sampai kata putus itu terjadi. Saya hanya perlu sedikit toleransi pada AT sambil pelan-pelan memperkenalkan dia pada keluarga besar saya.
Mungkin saya terlalu memaksa dengan secara langsung ingin AT berbaur di tengah-tengah keluarga saya, padahal kalau dibalik, belum tentu saya mampu. Semua butuh waktu, dan saya sadar, dengan sifat AT yang memang pemalu, saya tidak bisa memaksakan kehendak saya padanya.
Saya kembali belajar untuk menghargai dan memberikan ruang bagi AT mengenal keluarga dan tradisi yang berlaku di keluarga besar saya.
Cheers!
0 komentar:
Poskan Komentar