Baik atau buruk?
Malam minggu kemarin saya dan AT pergi berjalan-jalan ke Bandung Indah Plaza (BIP), Bandung, sekedar untuk melepaskan penat dari rutinitas sehari-hari. BIP memang menjadi mall pilihan yang paling sering kami kunjungi di antara mall lain di Bandung, karena lebih ramai, dan tidak melulu counter internasional dengan harga yang selangit.
Ternyata saat kami memasuki atriumnya, sedang ada tour promo dari penerbangan Garuda Indonesia ke banyak wilayah mulai dari dalam sampai luar negeri. Saya begitu tertariknya sampai berniat menghampiri salah satu stand biro travel untuk mengambil katalognya, tapi segera AT menarik tangan saya menjauh dari stand tersebut. Saya sedikit kecewa dan bertanya kenapa dia melarang saya.
"Memangnya siapa yang mau liburan? Kita kan sedang tidak ada uang? Tidak usah pergi kemana-mana dulu ah.." kata AT.
Saya sempat kesal karena larangannya, apa salah kalau hanya melihat-lihat harga? Tapi setelah dipikir-pikir, ada benarnya juga, dengan melihat katalog tersebut yang ada hanyalah saya yang akan terus bermimpi untuk berliburan ke luar negeri sedangkan uang tabungan saya sangat pas-pasan. Bisa-bisa sepulang liburan, saya tidak punya uang untuk makan.
Lain cerita, kadang AT akan mencegah saya berpakaian terlalu mencolok dan mengatur bagaimana seharusnya saya berpakaian, terutama jika keluar rumah. Saya terbiasa dengan tank top dan hot pants, lho, tapi semenjak bersama AT, dia yang mengubah kebiasaan saya ini.
Setelah saya pikir-pikir, benar juga, apalagi dengan maraknya pemerkosaan dan kasus-kasus pelecehan yang sering terjadi, membuat sayapun mengoreksi diri dalam bagaimana sebaiknya berpakaian.
Belum lagi larangan AT kepada saya tentang berdiet, berbelanja, make-up yang berlebihan, tidak boleh pakai poni rambut, dan lain-lain, yang kesemuanya itu, jika saya hanya berpihak pada ego saya, saya sangat kesal dan marah, dan bisa saja berteriak,
"KENAPA KAMU MELARANG SAYA TERUS?"
Tapi saat saya berpikir akan semua larangannya, ternyata apa yang dikatakan AT semua ada benarnya. Saya sudah kurus, jadi untuk apalagi berdiet? Saya juga sebenarnya tidak terlalu membutuhkan beli baju setiap minggu karena lemari saya sudah (sangat) penuh, make-up pun sebenarnya bukanlah hobi saya, karena saya lebih suka tampil apa adanya. Lalu poni rambut? Dahi saya akan mudah berjerawat jika saya memelihara poni, sehingga memang lebih baik saya tidak mempunyai poni rambut di dahi saya.
Dari semua pemikiran itu, saya jadi terkagum-kagum sendiri, bahwa AT lebih mengerti diri saya ketimbang saya. Apa yang saya butuhkanpun dia lebih tahu. Larangannya adalah hal yang terbaik buat saya. Saya benar-benar bersyukur memiliki pasangan seperti dia.
Jadi?
Tidak semua larangan pasangan itu buruk kan? Sampai saat ini, saya merasa apa yang dikatakan pasangan saya adalah yang terbaik buat saya.
Cheers!
0 komentar:
Poskan Komentar