Laman

Selasa, 21 Februari 2012

Saat Saya Tidak Mahir Ber-Makeup

Tadi malam, seperti biasa keluarga besar saya berkumpul di rumah saya. Tante saya kebetulan berulang tahun dan dia ingin dirayakan di rumah saya - yang memang selalu menjadi ajang kumpul-kumpul keluarga. 

Tante datang dengan anaknya, sepupu yang sebaya dengan saya. Cantik, putih, dan memang gemar berdandan. Penampilannya selalu membuat saudara yang lain terbelalak dan kadang gayanya menjadi pembicaraan di tengah-tengah kami para sepupu. Saya akui, memang ada rasa iri, karena saya tidak bisa secantik dia, tidak bisa menggunakan make-up semahir dia, dan tidak bisa mempadupadankan baju seperti dia.

Saya jadi semakin salah tingkah ketika tiba-tiba setelah acara makan malam dia mengeluarkan tas makeup yang besar, penuh dengan kosmetik yang didominasi produk-produk asal Korea. Saya ingin tersenyum tapi yang keluar malah wajah yang terlihat hambar. Semua anggota keluargapun langsung tertarik melihat isi tasnya, dan ingin mencoba bagaimana  memakai semua-semua ini. 

Dan dengan tangkasnya sepupu saya berlagak seperti seorang makeup artist dan acara makan malam ulang tahun itu berubah menjadi beauty salon dadakan.

Saya canggung sekali. Saya tiba-tiba merasa berada di dunia yang berbeda dengan seluruh saudara saya. 

Terutama dengan sepupu saya, saya yang sebaya dengan dia tidak mempunyai kemampuan seperti dia. Saya memang hanya terbiasa menggunakan makeup seadanya, sesuai dengan kebutuhan saya sehari-hari. Jadi seharusnya saya tidak ambil pusing dengan topik makeup itu.

Tapi tanpa saya sadari tuntutan pekerjaan dan aktivitas saya akhir-akhir ini memaksa saya untuk berpenampilan lebih serta menggunakan make up. Haruskah saya? Tapi dipikir-pikir, penghasilan saya hanya cukup untuk kebutuhan perawatan tubuh saya sehari-hari dan baju kelas menengah. Dan pekerjaan yang sekarang kadang tidak memberikan waktu yang lebih untuk saya menjaga penampilan saya. Karena.... Pekerjaan saya.... Menguras habis energi saya.

AT, untungnya, tidak mempermasalahkan hal ini, dia juga tidak terlalu suka dengan wanita yang terlalu gemar berdandan dengan baju yang aneh-aneh. Sayapun juga tetap berusaha tidak terlalu terpengaruh dan benar-benar berusaha mencukupi diri dan kebutuhan saya dengan apa yang saya miliki. Bagusnya, atasan saya juga tidak berani protes dengan penampilan saya yang biasa-biasa saja ini. Sudah terlalu banyak yang dia tuntut dari diri saya, saya sudah sediakan waktu dan tenaga saya, sekarang mau mengatur penampilan saya? Hmm......


Cheers!

0 komentar:

Poskan Komentar